Film Indonesia Tak Sekadar Hiburan, Ini Perannya dalam Menyuarakan Aspirasi Masyarakat
WartaCuan.com - Film Indonesia memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menyajikan hiburan. Melalui berbagai genre dan pendekatan cerita, film menjadi medium untuk menggambarkan realitas sosial, menyuarakan kritik terhadap persoalan publik, hingga merekam perjalanan sejarah bangsa. Sejumlah karya perfilman nasional memperlihatkan bagaimana pengalaman dan aspirasi masyarakat dapat diangkat ke layar lebar agar lebih dikenal dan menjadi bahan diskusi publik.
Peran tersebut tercermin dalam film Laut Bercerita, Bapak Paling Jujur, dan Merah Sebelum Fajar. Ketiganya mengangkat tema berbeda, mulai dari pengalaman aktivis menjelang berakhirnya Orde Baru, sindiran terhadap dunia politik, hingga dinamika perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sejarah Perfilman Indonesia Merekam Perubahan Zaman
Perjalanan perfilman nasional tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sosial, politik, dan kebudayaan Indonesia. Sejak pertama kali hadir di Tanah Air, film terus mengalami perubahan seiring bergantinya zaman dan kondisi masyarakat.
Dalam kajian Lukas Maserona Sarungu pada 2022, sejarah perfilman Indonesia dapat ditelusuri melalui berbagai aspek. Pembahasannya mencakup kebijakan pemerintah, regulasi sensor, perkembangan industri film, hingga perjalanan hidup para pelaku perfilman.
Gambaran perjalanan tersebut juga diuraikan dalam Modul Sejarah Film Indonesia yang disusun Satrio Pamungkas dari Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Materinya mencakup perkembangan film sejak periode kolonial Belanda dan Jepang, masa setelah kemerdekaan, hingga memasuki era milenium.
Perubahan yang terjadi dalam industri film menunjukkan bahwa karya sinema memiliki keterkaitan erat dengan situasi masyarakat pada setiap periode. Tema cerita, karakter, serta konflik yang dihadirkan kerap menggambarkan persoalan yang berkembang di lingkungan sosial.
Arda Muhlisiun melalui buku Menulis Film Indonesia (2023) turut membahas sejumlah aspek perfilman, seperti sejarah, identitas, dan kajian film. Perspektif tersebut menempatkan film tidak hanya sebagai karya artistik, tetapi juga sebagai bagian dari produk kebudayaan yang mencerminkan kehidupan masyarakat.
Film Menjadi Ruang Penyampaian Kritik dan Aspirasi
Selain merekam perubahan zaman, film juga memiliki kemampuan untuk menghadirkan persoalan yang mungkin belum memperoleh perhatian luas. Cerita yang diangkat dapat membuka ruang bagi kelompok masyarakat untuk memperkenalkan pengalaman, menyampaikan keresahan, sekaligus mendorong publik memahami persoalan dari perspektif berbeda.
Fungsi tersebut terlihat dalam film dokumenter. Penelitian Budi Irawanto dan Theresia Octastefani berjudul Film Dokumenter sebagai Katalis Perubahan Sosial: Studi Kasus Ambon, Aceh, dan Bali (2019) menguraikan bagaimana film dokumenter dapat mengangkat isu sosial dan politik yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Tidak berhenti pada penyampaian informasi, pemutaran film dokumenter juga berpotensi memunculkan percakapan di ruang publik dan mendorong perhatian dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan.
Kajian lain dilakukan Mohamad Amirsyah Gani dan Reni Nuraeni pada 2019 melalui penelitian mengenai film dokumenter Dibalik Frekuensi. Penelitian tersebut membahas representasi kritik sosial terhadap kepentingan ekonomi dan politik yang memengaruhi media.
Temuan dari berbagai kajian itu memperlihatkan bahwa film mempunyai fungsi sebagai sarana komunikasi sosial. Melalui gambar dan narasi, persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat kepada penonton.
Kemampuan tersebut juga dimiliki film fiksi. Meskipun dibangun melalui cerita dan karakter rekaan, film fiksi tetap dapat mengangkat pengalaman sejarah, menyampaikan kritik politik, maupun menggambarkan keresahan sosial. Pesan yang disampaikan bahkan dapat mengundang penonton untuk menafsirkan sendiri makna di balik cerita.
Tiga Film Indonesia yang Mengangkat Isu Sosial, Politik, dan Sejarah
Sejumlah film Indonesia menghadirkan pendekatan berbeda dalam menggambarkan hubungan antara kehidupan masyarakat dan perjalanan bangsa. Tiga di antaranya adalah Laut Bercerita, Bapak Paling Jujur, dan Merah Sebelum Fajar.
1. Laut Bercerita Mengangkat Ingatan tentang Aktivis 1990-an
Film Laut Bercerita merupakan adaptasi dari novel karya Leila S. Chudori. Ceritanya mengambil latar Yogyakarta pada penghujung 1990-an dengan mengikuti perjalanan Biru Laut, seorang mahasiswa yang aktif dalam kelompok diskusi dan memperjuangkan kebebasan berekspresi.
Kisah tersebut membawa penonton pada pengalaman aktivis yang menghadapi penculikan dan penghilangan menjelang berakhirnya pemerintahan Orde Baru. Cerita juga menyoroti perjuangan keluarga yang berupaya mencari anggota keluarga mereka yang tidak diketahui keberadaannya.
Melalui penggambaran tersebut, Laut Bercerita menghadirkan kembali ingatan tentang salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia. Film ini sekaligus membuka ruang pembahasan mengenai kebebasan berpendapat, pengalaman korban, dan upaya keluarga dalam mencari kejelasan atas peristiwa yang dialami orang-orang terdekat mereka.
2. Bapak Paling Jujur Menyindir Pencitraan Politik
Berbeda dari pendekatan historis Laut Bercerita, film Bapak Paling Jujur menggunakan komedi politik untuk menyampaikan kritik sosial.
Disutradarai Fajar Nugros, film ini berpusat pada Jonas Prakoso, seorang calon gubernur yang ingin membangun citra sebagai sosok pemimpin ideal. Namun, situasi berubah setelah dirinya terkena kutukan yang membuatnya tidak mampu mengucapkan kebohongan.
Kejujuran yang terus muncul dalam berbagai kesempatan justru menimbulkan persoalan bagi perjalanan kampanyenya. Kondisi tersebut menjadi dasar cerita yang menyentil praktik pencitraan dalam politik.
Melalui unsur komedi, film ini mengajak penonton melihat hubungan antara citra seorang calon pemimpin, pernyataan politik, dan harapan masyarakat terhadap sosok yang ingin memperoleh kepercayaan publik.
3. Merah Sebelum Fajar Menggambarkan Situasi Indonesia Pasca-Kemerdekaan
Sementara itu, Merah Sebelum Fajar membawa penonton ke Indonesia pada 1946, ketika perjalanan bangsa setelah proklamasi kemerdekaan masih diwarnai ketidakpastian dan kekerasan.
Film ini menggambarkan situasi perjuangan yang tidak selalu berlangsung dalam kondisi sederhana. Selain menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan, masyarakat juga dihadapkan pada ketegangan di antara kelompok-kelompok yang berada dalam situasi mempertahankan republik.
Pengangkatan periode awal kemerdekaan tersebut memberikan ruang untuk melihat kembali kompleksitas sejarah perjuangan Indonesia. Film ini juga menghadirkan gambaran mengenai pengalaman masyarakat ketika negara masih berupaya mempertahankan kedaulatannya.
Merah Sebelum Fajar dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 21 Januari 2027.
Film Indonesia dan Perannya dalam Menyuarakan Kehidupan Masyarakat
Kehadiran Laut Bercerita, Bapak Paling Jujur, dan Merah Sebelum Fajar memperlihatkan beragam cara sineas Indonesia mengolah persoalan sosial, politik, dan sejarah menjadi sebuah karya film.
Ketiganya menggunakan pendekatan penceritaan yang berbeda. Ada yang mengangkat kembali ingatan tentang peristiwa sejarah, menyampaikan kritik melalui humor, hingga menggambarkan situasi perjuangan pada masa awal kemerdekaan.
Perjalanan perfilman Indonesia pun menunjukkan bahwa film tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan. Lebih dari itu, film dapat menjadi dokumentasi kebudayaan, ruang penyampaian aspirasi, sekaligus medium untuk mempertemukan berbagai pandangan mengenai persoalan masyarakat.
Melalui cerita yang dihadirkan di layar, pengalaman yang sebelumnya kurang terdengar dapat memperoleh perhatian lebih luas. Film juga memungkinkan generasi berikutnya mengenal kembali berbagai peristiwa dan persoalan yang membentuk perjalanan bangsa.
Dengan demikian, perfilman Indonesia memiliki kontribusi dalam menjaga ingatan kolektif, menyampaikan kritik, dan membuka ruang diskusi mengenai kehidupan sosial. Film bukan sekadar tontonan, melainkan juga medium yang memungkinkan suara masyarakat tetap hadir dalam perjalanan kebudayaan Indonesia.
Referensi
-
Sarungu, Lukas Maserona. (2022). Pemetaan Sejarah Film di Indonesia: Studi Literatur Riset Sejarah Film di Indonesia.
-
Pamungkas, Satrio. (t.t.). Modul Sejarah Film Indonesia. Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta.
-
Muhlisiun, Arda. (2023). Menulis Film Indonesia. Surabaya: Pustaka Aksara.
-
Irawanto, Budi, & Octastefani, Theresia. (2019). Film Dokumenter sebagai Katalis Perubahan Sosial: Studi Kasus Ambon, Aceh, dan Bali. Kawistara, 9(1), 107–119.
-
Gani, Mohamad Amirsyah, & Nuraeni, Reni. (2019). Representasi Kritik Sosial pada Film Dokumenter Dibalik Frekuensi. e-Proceeding of Management, 6(3), 6672–6682.
