Minggu, 01 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Hiburan
Hiburan

Piknik di Taman Kota Jadi Tren Rekreasi Murah Warga Jakarta, Ini Kata Komunitas

✍️ Fajar Hidayat 🕒 16 Oct 2026 👁️ 10x dibaca
Dokumentasi komunitas Bertemu Djakarta saat menggelar event piknik di salah satu taman di Jakarta.
Dokumentasi komunitas Bertemu Djakarta saat menggelar event piknik di salah satu taman di Jakarta. Foto: Istimewa

WartaCuan.com – Piknik estetik di taman kota kian digemari warga Jakarta sebagai cara berekreasi yang tenang dan hemat di tengah padatnya aktivitas serta mahalnya biaya hidup. Kegiatan menggelar tikar, membawa camilan, dan bercengkerama di bawah pohon rindang ini tidak lagi sekadar ikut tren media sosial, tetapi mulai menjadi kebutuhan warga akan ruang rekreasi yang tidak menguras dompet. Namun, komunitas menilai peningkatan minat itu belum diimbangi kualitas fasilitas dan kemudahan perizinan di taman.

Founder Komunitas Bertemu Djakarta, Muhamad Ilham, memandang fenomena ini sebagai bentuk pencarian warga terhadap ruang jeda yang aman dan nyaman. “Ruang terbuka hijau dengan aktivitas seperti piknik di taman ini jadi kebutuhan primer untuk penduduk perkotaan. Sebagai makhluk sosial, kita pasti butuh ruang ketiga untuk menyegarkan pikiran, bersosialisasi, dan beraktivitas diluar rutinitas,” jelas Ilham saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (6/10/2026).

Menurut Ilham, konten dan informasi di platform digital ikut mempercepat kebiasaan baru tersebut. Banyak komunitas dan warga kini memilih taman untuk melepas stres, berkumpul bersama teman, hingga berkegiatan tertentu. “Adanya tren piknik di media sosial juga menjadi salah satu gambaran kebutuhan banyak orang untuk melampiaskan stres atau berkumpul bersama teman di taman,” ungkapnya. Bagi komunitas hobi dan kreatif, taman juga berfungsi sebagai titik kumpul strategis sekaligus tempat anggota menyalurkan kreativitas.

Jumlah Taman Bertambah, Kualitas Belum Merata

Meski peminat taman meningkat, kualitas infrastruktur dinilai belum merata. Dari sudut pandang komunitas, lahan hijau saja tidak cukup tanpa ekosistem yang ramah pengunjung. “Kalau di Jakarta dalam waktu 5 tahun ada peningkatan jumlah taman. Tapi dari segi kualitas dan inklusivitas belum merata, karena taman hadir bukan sekadar ada tapi juga dilengkapi segala sarana dan prasarananya supaya menarik pengunjung juga,” ujar Ilham.

Ia merinci beberapa hambatan yang kerap dijumpai, mulai dari akses transportasi hingga lahan parkir. “Beberapa concern komunitas soal taman yaitu aksesibilitas ke transportasi publik, ramah untuk pejalan kaki, dan juga fasilitas parkir yang memadai tanpa adanya pungli untuk pengunjung yang membawa kendaraan pribadi,” paparnya.

Faktor keamanan juga menjadi perhatian. “Penerangan yang memadai di area taman penting juga, supaya merasa lebih aman saat menghabiskan waktu di taman,” kata Ilham. Selain itu, ia melihat taman berpotensi menggerakkan ekonomi pelaku usaha kecil bila mereka diizinkan berjualan di sana. “Di taman pengunjung tidak hanya duduk saja, kalau ada tenant makanan atau bisa berkolaborasi dengan UMKM, kemungkinan akan lebih ramai pengunjung dan bisa menggerakan ekonomi UMKM juga,” tutur dia.

Regulasi Kaku Batasi Ruang Gerak Komunitas

Di luar fasilitas fisik, aturan yang kaku turut dikeluhkan. Taman yang semestinya menjadi ruang ekspresi bebas justru kerap dipenuhi batasan administratif bagi pegiat kreatif. “Ruang terbuka hijau ini bisa dibilang jadi media hal-hal spontanitas atau kreativitas yang seharusnya mudah dijangkau. Jika terjadi keterbatasan ruang terbuka hijau, seperti taman, tentu akan membatasi hal tersebut,” tegas Ilham.

Keresahan itu berakar pada aturan pengelola yang sering berbenturan dengan agenda komunitas. Ilham mencontohkan alur birokrasi yang panjang untuk menggelar acara serta pembatasan jam kegiatan sebagai hal yang menyempitkan ruang gerak pelaku kreatif.

Taman Gratis Jadi Alternatif Mal bagi Pekerja Muda

Pandangan komunitas itu sejalan dengan pengalaman warga yang menjalani tren ini. Zulfa (22), karyawan swasta, menjadikan taman sebagai pilihan yang masuk akal ketimbang terus mengeluarkan uang di pusat perbelanjaan.

“Tapi kalau nongkrong buat ngobrol sama teman aja aku lebih suka taman, karena bisa duduk gratis. Di mal itu tempat duduk gratisnya terbatas, kalau mau yang nyaman harus “bayar” alias ke kafe, resto, atau food court,” tutur Zulfa. Bagi pekerja muda sepertinya, akhir pekan tak harus mahal, sebab kualitas waktu bersama teman dan kenyamanan lebih diutamakan. “Sesimpel karena taman itu gratis aja sih. In this economy, kalau bisa menghemat pengeluaran yang enggak perlu, kenapa enggak? Terus di sekitar taman juga biasanya banyak pedagang makanan dan minuman dengan harga yang lebih terjangkau di kantong,” ceritanya.

Terlepas dari fasilitas yang masih kurang, pohon rindang tetap menjadi daya tarik utama, apalagi di tengah cuaca panas kota besar seperti Jakarta. “Taman yang hijau itu sudah pasti. Karena keberadaan pohon itu membantu banget buat ngehalau cuaca terik,” tutup Zulfa.

Fenomena piknik di taman kota tidak sekadar tren gaya hidup yang akan surut seiring waktu. Antusiasme warga ini menjadi pengingat bagi pemerintah daerah bahwa kebutuhan akan ruang publik yang inklusif, berkualitas, dan bebas hambatan birokrasi sudah mendesak. Di tengah dominasi gedung pencakar langit dan pusat komersial, ruang terbuka hijau yang ramah pengunjung menjadi tolok ukur seberapa manusiawi sebuah kota merangkul warganya.

FH
Fajar HidayatRedaktur
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update