Minggu, 01 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Teknologi
Teknologi

Saham Intel Anjlok 28,6 Persen, Rp2.539 Triliun Kapitalisasi Pasar Menguap

✍️ Fajar Hidayat 🕒 31 Oct 2026 👁️ 6x dibaca
Logo Intel dalam peluncuran Intel Gen 13 di Indonesia
Logo Intel dalam peluncuran Intel Gen 13 di Indonesia Foto: Kompas.com/Lely Maulida

WartaCuan.com - Saham Intel merosot 28,6 persen pada perdagangan Jumat (30/10/2026) waktu Amerika Serikat (AS). Penurunan tajam ini terjadi setelah perusahaan merilis proyeksi pendapatan dan laba kuartal IV-2026 yang berada di bawah perkiraan analis Wall Street.

Koreksi tersebut menghapus hampir 140 miliar dollar AS atau sekitar Rp2.539 triliun dari kapitalisasi pasar Intel hanya dalam sehari. Berdasarkan data harga penutupan Norgate Data sejak Mei 1973 yang dihitung Yahoo Finance, penurunan ini menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah saham perusahaan.

Penurunan harian terbesar Intel sebelumnya terjadi pada 5 Juli 1974, ketika sahamnya anjlok sekitar 29,9 persen. Koreksi terbaru juga melampaui penurunan 26,1 persen yang tercatat pada 2 Agustus 2024.

Sebelum mengalami tekanan, saham Intel sempat mencatat reli besar sepanjang 2026. Harganya naik hampir empat kali lipat sejak awal tahun dan mencapai rekor tertinggi pada 22 Juni 2026.

Meski terkoreksi tajam, saham Intel masih mencatat kenaikan hampir 80 persen sepanjang tahun berjalan. Namun, harganya telah kehilangan lebih dari separuh nilai tertinggi pada Juni dan ditutup di kisaran 60 dollar AS, level terendah sejak 22 April 2026. Koreksi tersebut juga menghapus kenaikan sekitar 24 persen yang terjadi pada 24 April 2026.

Proyeksi kuartal IV di bawah ekspektasi pasar

Penurunan saham terjadi meskipun Intel mencatat kinerja yang cukup kuat pada kuartal III-2026. Perusahaan membukukan laba per saham yang disesuaikan (adjusted earnings per share/EPS) sebesar 0,52 dollar AS atau sekitar Rp9.426, lebih tinggi dibandingkan perkiraan analis.

Pendapatan dari bisnis pusat data (data center) juga meningkat menjadi 7,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp132 triliun. Namun, investor lebih mencermati prospek kinerja perusahaan pada kuartal berikutnya.

Intel memproyeksikan pendapatan kuartal IV-2026 berada di kisaran 15 miliar dollar AS hingga 16 miliar dollar AS, setara sekitar Rp271 triliun hingga Rp290 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan analis yang mencapai sekitar 17 miliar dollar AS atau Rp308 triliun.

Perusahaan juga memperkirakan EPS sebesar 0,25 dollar AS, sedangkan analis sebelumnya memproyeksikan angka 0,43 dollar AS.

Kesenjangan antara proyeksi perusahaan dan ekspektasi pasar tersebut memicu aksi jual saham Intel. Analis Bernstein, Stacy Rasgon, menilai prospek kinerja perusahaan sangat buruk. Ia pun memangkas target harga saham Intel menjadi 75 dollar AS dari sebelumnya 110 dollar AS.

Pasokan memori membebani industri PC

Salah satu tantangan yang dihadapi Intel berasal dari industri komputer pribadi atau personal computer (PC). Meningkatnya kebutuhan chip memori untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) menyerap pasokan memori global dan mendorong kenaikan harga komponen.

Kondisi tersebut berdampak pada ketersediaan dan biaya komponen untuk memproduksi laptop maupun komputer desktop. Intel memperkirakan pengiriman PC global akan turun sekitar 12 persen pada 2026 dan kembali melemah 10 persen pada 2027.

Menurut perusahaan, tekanan terhadap pasar PC diperkirakan berlanjut hingga pasokan memori kembali normal dan harga komponen lebih stabil.

Intel juga menghadapi gangguan produksi di fasilitasnya di Israel. Insiden tersebut diperkirakan mengurangi pendapatan perusahaan sekitar 300 juta dollar AS atau setara Rp5,4 triliun pada kuartal IV-2026.

Tekanan di industri semikonduktor dan PC turut tercermin pada pergerakan saham perusahaan teknologi lainnya. Produsen komputer seperti Dell dan HP juga mengalami pelemahan harga saham.

Nilai saham Intel milik pemerintah AS ikut tergerus

Koreksi harga saham Intel turut mengurangi nilai investasi pemerintah Amerika Serikat. Pemerintah AS memiliki sekitar 9,9 persen saham Intel, yang dibeli pada Agustus 2025 dengan harga 20,47 dollar AS per saham.

Setelah penurunan terbaru, nilai kepemilikan tersebut berkurang lebih dari 10 miliar dollar AS. Meski demikian, nilainya masih sekitar tiga kali lipat dibandingkan dana yang dikeluarkan pemerintah AS saat membeli saham perusahaan tersebut.

Di tengah tekanan bisnis dan pasar saham, CEO Intel Lip-Bu Tan menegaskan bahwa pemulihan perusahaan membutuhkan waktu panjang.

"Memulihkan Intel akan menjadi perjalanan selama beberapa tahun, dan saya tetap berkomitmen penuh untuk mewujudkannya," ujar Tan dalam konferensi laporan keuangan perusahaan baru-baru ini, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Yahoo Finance.

FH
Fajar HidayatRedaktur
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update