Minggu, 01 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Olahraga
Olahraga

Olahraga Murah di Jakarta: Manfaatkan RTH dan Fasilitas Publik untuk Hidup Aktif dan Cegah Obesitas

✍️ Fajar Hidayat 🕒 23 Oct 2026 👁️ 10x dibaca
Ilustrasi olahraga lari. PDSKO menjelaskan bahwa kejadian fatal saat olahraga umumnya dipicu kombinasi beberapa faktor, mulai dari kondisi kesehatan yang belum terdeteksi hingga keterlambatan mengenali tanda bahaya.
Ilustrasi olahraga lari. PDSKO menjelaskan bahwa kejadian fatal saat olahraga umumnya dipicu kombinasi beberapa faktor, mulai dari kondisi kesehatan yang belum terdeteksi hingga keterlambatan mengenali tanda bahaya. Foto: Google Gemini AI

WartaCuan.com - Ruang terbuka hijau (RTH) dan fasilitas publik di Jakarta menjadi pilihan warga yang ingin rutin berolahraga tanpa biaya besar. Menurut ahli gizi Prof. Dr. dr. Meilinah Hidayat, ruang publik yang mudah diakses mendukung gaya hidup aktif dan membantu menekan risiko obesitas, asalkan disertai lingkungan kota yang aman dan nyaman.

“Ruang publik di Jakarta sangat penting karena bisa menyediakan tempat yang mudah diakses masyarakat untuk aktif bergerak,” katanya.

Prof. Meilinah, dari Universitas Kristen Maranatha Bandung, menilai ajakan berolahraga harus diimbangi pembangunan kota yang mendukung.

“Jangan cuma dihimbau untuk ayo tingkatkan aktivitas fisik, ayo gemar berolahraga, tapi tidak didukung oleh fasilitas kota yang baik,” ujar Prof. Meilinah.

Tidak Hanya Soal Menambah Taman

Menurutnya, pengembangan ruang publik tidak cukup dengan menambah area hijau. Kualitas jalur pejalan kaki, ketersediaan jalur sepeda, keamanan lingkungan, akses bagi berbagai kelompok masyarakat, dan kondisi udara juga perlu diperhatikan. Taman kota, jalur pedestrian, jalur sepeda, dan lapangan memberi warga kesempatan berjalan, berlari, dan bermain tanpa bergantung pada tempat berbayar.

“Ruang terbuka hijau tentu sangat penting, taman kota, kemudian dengan udara yang cukup segar dan tidak polusi,” ujarnya.

Kisah Kalis: Gym Rp220.000, Jogging Gratis atau Murah

Salah satu warga yang memanfaatkan fasilitas itu adalah Daniel Kalis Jatimukti (25), Public Relation di sebuah organisasi nonpemerintah (NGO) di Jakarta. Ia berolahraga tiga hingga empat kali seminggu, memadukan latihan di pusat kebugaran dengan jogging di ruang publik Jakarta Selatan, seperti kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Taman Margasatwa Ragunan, dan RTH di sekitar Cilandak Town Square (Citos).

“Kalau jogging aku memang kalau bisa mencari yang murah,” kata Kalis saat diwawancarai Kompas.com pada Rabu (30/9/2026).

Kalis mengeluarkan sekitar Rp220.000 per bulan untuk gym dan menilainya sepadan sebagai investasi kesehatan jangka panjang. Untuk jogging, ia memilih lokasi murah atau gratis. Di Ragunan ia hanya menyiapkan biaya tiket masuk dan parkir, sedangkan berolahraga di GBK dinilainya relatif terjangkau.

“Keberadaan taman atau fasilitas olahraga gratis sangat membuat aku mudah untuk rutin berolahraga karena jaraknya dekat dan enggak bayar,” ujarnya.

Aktivitas Fisik Tak Harus di Gym

Prof. Meilinah menjelaskan, manfaat kesehatan juga bisa didapat dari aktivitas sederhana, seperti berjalan kaki, bersepeda, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bermain aktif bersama anak, atau memilih tangga. Konsistensi dan penyesuaian dengan kemampuan masing-masing menjadi kunci.

“Manfaat kesehatan itu bisa didapat dari aktivitas fisik yang lain, misalnya berjalan kaki, bersepeda, bahkan melakukan pekerjaan rumah tangga juga itu suatu aktivitas fisik,” ujar Prof. Meilinah melalui sambungan telepon kepada Kompas.com, Jumat (2/9/2026).

Kurang Gerak dan Risiko Obesitas

Aktivitas fisik berperan menjaga keseimbangan energi tubuh. Kurang bergerak meningkatkan risiko obesitas, terutama ketika energi dari makanan melebihi energi yang dipakai tubuh.

“Kurang aktivitas fisik itu berarti tubuh menggunakan energi lebih sedikit. Dan jika berlangsung terus-menerus, dan asupan energinya melebihi kebutuhan tubuh, kelebihan energi ini disimpan sebagai adiposa atau lemak,” jelasnya.

Namun obesitas tidak semata disebabkan kurang gerak. Pola makan, kualitas tidur, tingkat stres, dan lingkungan sehari-hari turut berpengaruh. Di perkotaan, trotoar yang tidak nyaman, ruang terbuka yang jauh atau kurang aman, serta terbatasnya fasilitas olahraga dapat menghambat warga bergerak. Kebiasaan duduk lama karena bekerja di depan komputer atau memakai gawai juga mengurangi kesempatan tubuh bergerak bila tidak diimbangi aktivitas fisik. Karena itu, pencegahan obesitas perlu menyeluruh: menjaga pola makan, menambah aktivitas fisik, mencukupi tidur, dan mengelola stres.

Harapan Kalis: Fasilitas Olahraga Terpadu yang Terjangkau

Meski RTH telah memenuhi kebutuhan jogging-nya, Kalis melihat masih ada ruang perbaikan. Sejumlah ruang terbuka sudah memiliki lintasan memadai, tetapi fasilitas dalam ruangan seperti untuk badminton, basket, atau futsal dengan harga ramah kantong lebih sulit ditemukan dibanding fasilitas premium.

“Bagus ketika misal mungkin dari Pemda atau siapapun itu bisa membuat fasilitas olahraga terpadu, jadi bisa untuk berbagai macam olahraga dengan harga yang terjangkau bagi semua kalangan,” kata Kalis.

Harapan itu menunjukkan bahwa akses olahraga tidak hanya soal taman dan RTH. Masyarakat membutuhkan beragam pilihan fasilitas sesuai minat, kebutuhan, dan kemampuan finansial. Lingkungan yang mendukung membantu warga membangun kebiasaan aktif, dan kebiasaan itu perlu berjalan bersama pola makan seimbang, tidur cukup, dan pengelolaan stres agar upaya menjaga kesehatan berkelanjutan.

FH
Fajar HidayatRedaktur
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update