Merti Kayon Blora 2026: 38 Foto Pohon Berusia Lebih dari 100 Tahun Dipamerkan di Blora Creative Space
WartaCuan.com - Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Blora menggelar pameran foto bernarasi tentang pohon-pohon berusia lebih dari 100 tahun di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pameran bertajuk Merti Kayon Blora 2026 ini menampilkan 38 foto beserta narasinya, dan seluruh karya direncanakan dibukukan menjadi antologi pohon Blora.
Pameran berlangsung di Blora Creative Space (BCS) dengan tema “Merawat Pohon Kehidupan, Menjaga Warisan Alam”. Lewat kegiatan ini, penyelenggara berupaya merawat ingatan sejarah, cerita rakyat, dan nilai budaya yang melekat pada pohon-pohon tua di Blora.
Dari Pendataan Warga ke Pameran
Ketua Lesbumi PCNU Blora, Dalhar Muhammadun, menjelaskan bahwa pameran diawali inventarisasi partisipatif selama lebih dari sebulan. Warga ikut mendata pohon-pohon besar yang diperkirakan sudah berusia lebih dari satu abad. Dalhar menyampaikan hal ini saat pembukaan pameran pada Kamis (22/10/2026) malam.
“Setidaknya kerja-kerja jurnalistik, kerja-kerja literasi dilakukan oleh para peserta sehingga yang dihasilkan tidak hanya foto tetapi narasi yang komplet dari masing-masing peserta terungkap banyak hal bahwa kesimpulan yang kita ambil setiap pohon yang lebih dari 100 tahun pasti banyak cerita yang ada di baliknya,” ucap dia saat pembukaan pameran pada Kamis (22/10/2026) malam.
Foto yang Bercerita
Setiap foto dilengkapi narasi yang mengungkap kaitan pohon dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar. Menurut Dalhar, sejumlah pohon berhubungan dengan sendang atau sumber air, sebagian menjadi saksi sejarah, dan lainnya menjadi bagian dari kegiatan sosial maupun budaya.
“Mulai dari pohon yang menjadi bagian dari sendang, pohon yang menjadi bagian sejarah, pohon yang menjadi bagian dari kegiatan-kegiatan sosial hari ini, bahkan pohon yang menjadi tempat untuk kegiatan kebudayaan dan tentu saja pohon sebagai rumahnya hantu maupun semua makhluk,” kata dia.
Dari 38 karya, dipilih 10 karya terbaik untuk mendapat apresiasi atas dokumentasi dan cerita yang disajikan.
Sebagian Pohon yang Diangkat
Pohon-pohon dalam pameran tersebar di sejumlah kecamatan di Blora. Beberapa di antaranya:
- Pohon Kesambi Sendhang Kaliuloh, Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban
- Pohon Kepoh Sendang Mahbang, Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon
- Pohon Wungu, Desa Sendangwungu, Kecamatan Banjarejo
- Pohon Panggang Sendang Mahbang, Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon
- Pohon Bolu, Desa Galuk, Kecamatan Kedungtuban
- Pohon Kepuh Brumbung, Desa Gagaan, Kecamatan Kunduran
- Pohon Trembesi dan Kepoh Sendhang Mojokulon, Desa Banjarejo, Kecamatan Banjarejo
- Pohon Pule Kedung Prau, Desa Singonegoro, Kecamatan Jiken
- Pohon Beringin Tua di Situs Sigitan, Desa Bengir, Desa Keser, Kecamatan Tunjungan
- Pohon Beringin Sepuh, Pasar Ketuwan, Kecamatan Kedungtuban
Rencana Dibukukan
Dokumentasi Merti Kayon tidak berhenti di pameran. Lesbumi PCNU Blora berencana menghimpun karya-karya itu dalam buku antologi pohon Blora yang memuat data dan narasi pohon-pohon yang telah didata.
“Dari semua yang kita lakukan ini pada malam hari ini kita secara bersama bisa menyaksikan fotonya beserta narasi ringkasnya.”
“Dan itu tidak hanya berhenti di sini, ke depan masih akan kita bukukan menjadi antologi pohon Blora. Karena di baliknya ada informasi data dan ada narasi-narasi,” terang dia.
Dalhar menambahkan, pembukuan ini menjadi langkah penyelamatan cerita dan pengetahuan lokal yang berpusat pada pohon-pohon yang masih bertahan.
“Maka ketika informasi itu nanti akan kita bukukan, setidaknya ini adalah penyelamatan baik itu sejarah maupun folklor yang berpusat di pohon-pohon yang menjadi objek dari Merti Kayon kali ini,” imbuh dia.
Harapan: Pendataan Terus Berlanjut
Lesbumi PCNU Blora berharap semakin banyak warga tergerak mendata pohon besar dan tua di lingkungannya sambil menggali cerita yang menyertainya. Dalhar juga berharap Merti Kayon berlanjut ke edisi berikutnya agar lebih banyak pohon bersejarah terdokumentasi secara rinci.
“Harapan kita kedepannya juga ada Merti Kayon jilid berikutnya sehingga banyak pohon yang lain nanti akan ikut terinventarisasi secara detail,” jelas dia.
Lewat perpaduan fotografi, literasi, dan pendataan partisipatif, Merti Kayon Blora 2026 memperkenalkan pohon-pohon tua sebagai warisan alam sekaligus penyimpan cerita sejarah dan budaya masyarakat Blora.
