HSBC Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,4 Persen di 2026 Ditopang Daya Tahan Nasional
Wartacuan.com - Bank global HSBC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menyentuh angka 5,4 persen sepanjang tahun 2026. Perkiraan optimis ini berpijak pada torehan kinerja ekonomi nasional yang berhasil membukukan rata-rata pertumbuhan sebesar 5,4 persen pada Semester I-2026.
Memasuki tahun 2027, laju ekonomi nasional diprediksi sedikit mengalami penyesuaian ke level 5,2 persen. Kendati demikian, angka tersebut dinilai tetap mencerminkan performa yang sangat solid di tengah gelombang penyesuaian ekonomi global.
"Pada semester pertama tahun ini, ekonomi tumbuh sebesar 5,4%. Kami memperkirakan pertumbuhan sepanjang tahun juga akan mencapai 5,4% dan untuk tahun depan kami memproyeksikan angka 5,2%. Jadi sedikit melambat, namun tetap merupakan pertumbuhan yang sangat kuat mengingat adanya berbagai guncangan tersebut," kata Chief Asia Economist & Co-head Global Investment Research Asia HSBC, Frederic Neumann, dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2026).
Ketahanan ekonomi Indonesia teruji di tengah hantaman tiga guncangan utama dunia, yakni lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik, ancaman kemarau El Nino yang memicu kenaikan harga pangan, serta tingginya tren suku bunga global.
"Jika kita melihat Indonesia, negara ini cukup rentan terhadap berbagai guncangan tersebut, dan sekarang pertanyaannya adalah seberapa kuat perekonomian Indonesia mampu bertahan? Dan sejauh ini, kesimpulannya adalah perekonomian Indonesia sangat tangguh dalam menghadapi semua guncangan tersebut," tegas Frederic.
Keberhasilan Indonesia meredam dampak guncangan energi dinilai tak lepas dari kebijakan subsidi dan kontrol harga minyak oleh pemerintah, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.
"Berkat adanya subsidi dan dukungan harga, kita tidak melihat dampak penuh terhadap konsumen sebagaimana yang terjadi di negara-negara lain. Sejauh ini, pemerintah Indonesia mampu menanggung biaya pengendalian harga tersebut. Menurut saya, hal itu menjadi jangkar penting bagi stabilitas ekonomi," ujar Frederic.
Sementara dalam mengatasi dampak El Nino, perbaikan distribusi pangan domestik serta status Indonesia sebagai eksportir bersih pangan (net food exporter) terbukti efektif menahan laju inflasi.
"Indonesia adalah eksportir bersih pangan. Artinya, Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor pangan. Memang ada beberapa komoditas yang diimpor, namun secara keseluruhan, Indonesia tetap merupakan eksportir bersih pangan. Hal ini juga sedikit banyak melindungi Indonesia dari dampak El Niño," jelasnya.
Adapun dari sisi moneter, fleksibilitas dunia usaha dalam mengelola risiko suku bunga serta manajemen fiskal pemerintah yang konservatif dalam pengelolaan utang dan defisit berhasil membendung tekanan kenaikan suku bunga global.
"Itulah salah satu alasan mengapa kami berpendapat bahwa ketiga guncangan tersebut pada akhirnya akan dapat diserap oleh Indonesia, dan negara ini akan terus menunjukkan ketahanan yang cukup kuat," pungkasnya.
