Minggu, 01 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

BI Prediksi Ekonomi Global Tumbuh 3 Persen pada 2026, Inflasi 4,6 Persen

✍️ Fajar Hidayat 🕒 22 Oct 2026 👁️ 12x dibaca
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam Konferensi Pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (24/9/2026)
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam Konferensi Pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (24/9/2026) Foto: KOMPAS.com/CITAAULIANA

WartaCuan.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 masih lemah, yakni sekitar 3,0 persen, sementara inflasi global diprakirakan tetap tinggi di kisaran 4,6 persen. Kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya ketegangan perang di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dan berbagai komoditas dunia tetap tinggi.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, tekanan geopolitik tersebut turut memperburuk prospek perekonomian global dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan.

"Kondisi ini dipengaruhi oleh makin kuatnya tensi perang di Timur Tengah sehingga mendorong tetap tingginya harga minyak dan berbagai komoditas dunia," kata Destry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (21/10/2026).

Menurut Destry, prospek ekonomi global juga dibayangi kebijakan moneter yang ketat dalam waktu lebih lama atau higher for longer. Kondisi ini berpotensi membuat suku bunga global bertahan pada level tinggi sehingga menambah tekanan terhadap perekonomian dunia.

Ketidakpastian tersebut turut tercermin dari besarnya peluang kenaikan kembali suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), yakni Fed Funds Rate (FFR).

Di sisi lain, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) masih bertahan tinggi. Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter AS serta besarnya defisit anggaran pemerintah negara tersebut.

Destry menambahkan, minat investor global terhadap aset portofolio di negara-negara pasar berkembang atau emerging markets masih terbatas. Situasi ini turut menopang penguatan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang.

Menghadapi dinamika tersebut, BI menilai diperlukan penguatan respons serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

"Kondisi ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik," tutupnya.

Menurut BI, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter diperlukan untuk memperkuat ketahanan eksternal Indonesia sekaligus menjaga stabilitas perekonomian dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.

FH
Fajar HidayatRedaktur
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update